Breaking News: Gempa Bumi 6.7 Magnitudo Guncang Malang, Begini Mitigasinya

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Gempa bumi berkekuatan 6.7 magnitudo (M) mengguncang wilayah Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (10/4/2021). Kejadian ini menyebabkan warga setempat panik dan berhamburan ke luar gedung serta rumah.

Kabar terkait itu di-posting oleh akun resmi Twitter Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), @infoBMKG. gempa tercatat terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Gempa berkekuatan magnitudo 6,7 ini berlangsung selama 37 detik.

Muat Lebih

“Gempa magnitudo 6.7, 10 April 2021 14:00:15 WIB,” demikian postingan BMKG.

BMKG menjelaskan bahwa pusat gempa berada di 90 km Barat Daya Kabupaten Malang. Tepatnya pada 8.95 lintang selatan,112.48 bujur timur, dengan kedalaman 25 kilometer.

“Dengan kedalaman 25 kilometer dan tidak berpotensi tsunami,” tulis BMKG.

Sebagai informasi, dikutip dari mongabay.co.id, Plt. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan menjelaskan, intensitas kejadian gempa di Kabupaten Malang tergolong naik. Sepanjang 2020 ada 151 kejadian, sedangkan sampai Maret 2021 tercatat 122 kejadian.

“Tak ada sejengkal pun daerah di Kabupaten Malang yang aman dari gempa,” katanya.

BPBD telah menyusun peta risiko bencana gempa bumi bersama BMKG. Peta rawan bencana tsunami mulai Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing, Tirtoyudo dan Ampelgading. BPBD telah melakukan mitigasi bencana mulai prabencana, saat darurat bencana sampai pascabencana.

Kesiapsiagaan salah satunya membentuk desa tangguh bencana, di lokasi yang memiliki kerawanan tinggi. Serta memasang rambu evakuasi di pesisir selatan. Setiap tahun dipasang 100 titik rambu evakuasi.

“Jumlah rambu kecil tak sebanding dengan luasan panjang pantai,” katanya.

Apalagi setelah terbangun Jalur Lintas Selatan (JLS), banyak pantai terbuka untuk wisata. Selain itu, juga dipasang peringatan dini termasuk memasang automatic wheater station (AWS) di beberapa pantai.

“Setahun lalu dipasang di Balekambang dan Tambak Rejo, tapi alat tak bertahan lama. Setahun rusak,” katanya.

Daripada menganggarkan dana ratusan juta untuk alat, katanya, lebih baik digunakan meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap peringatan dini bencana. Termasuk membentuk desa tangguh bencana. [rif]

Sumber: Indopolitika.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *