Mengenang Almarhum Kyai Ahmad Rifa’i Arief

  • Whatsapp

Oleh: Abdul Hakim*

Nama kecilnya Lilip, demikian ia biasa dipanggil di Kampung Pasir Gintung, sebuah tempat kelak ia merintis pesantren Daar El-Qolam, dikenal dengan Pesantren Gintung. Sebelum berangkat ke Gontor, Pesantren Darussalam, ia singgah sebentar di Pesantren Caringin. Di sini ia mengaji kitab kuning, kitab-kitab kecil yang biasa dipelajari oleh para pemula di Pesantren Banten masa lalu.

Muat Lebih

Caringin merupakan situs penting kajian dan penyebaran Islam di Banten sejak masa kolonial. Nama besar Syaikh Asnawi Caringin di dekade pasca kemerdekaan masih berkibar mengingat beliau adalah salah satu silsilah penting thoriqoh Qodriyah Naqshabandiyah jalur Banten melaui Syaikh Abdul Karim Tanara. Ayah Kyai Rifa’i, Abah Qosod Mansyur memiliki kedekatan khusus dengan jaringan Caringin ini, ditandai dengan berdirinya sekolah dasar/madrasah ‘Masyariqul Anwar’ di Pasir Gintung, sekolah ini masih tegak berdiri bahkan hingga kini.

Tidak heran bila di kemudian hari, Lilip disekolahkan ke Gontor, tersirat semangat modernisme pendidikan Islam yang dipengaruhi oleh Ayahnya didapat dari Caringin sebagai buah gerakan reformasi pendidikan Islam yang telah dirintis sejak awal abad dua puluh di nusantara ini, tak terkecuali Caringin. Di Gontor ini Lilip menimba pengetahuan keagamaan yang sudah dipadukan dengan elemen kurikulum hasil reformasi pendidikan Islam, termasuk latihan organisasi pondok dan melalui organisasi pelajar Islam seperti PII (Persatuan Pelajar Islam Indonesia).

Kyai Rifa’i suatu kali berkisah bagaimana ia dididik berdiskusi, berdebat mengenal beragam isu, dan latihan menjadi pemimpin melalui organisasi ini di Gontor kala itu. Ia sempat mencicipi pengalaman menjadi sekretaris pribadi Kyai Imam Zarkasyi, bahkan kelak sang kyai berkunjung ke Pasir Gintung, dalam munajatnya, ‘…berkahilah tempat ini dengan para santri yang datang dari beragam penjuru sebagaimana deras hujan yang turun saat ini’. Sebuah do’a yang diucapkan saat hujan lebat mengguyur tanah desa Pasir Gintung.

Sepulangnya dari Gontor, Kyai Lilip mendirikan pesantren Daar El-Qolam, di sebidang tanah wakaf dari Hajah Pengki. Melalui tatap muka dengan para santri baru, Kyai Lilip sering mengulang kisah ini, termasuk memulai dengan cerita sebuah ruang dapur dan ruang belajar bekas kandang kerbau.
Di dalam evolusinya sejak tahun 1968 pondok ini hanya diisi oleh para santri dari kalangan keluarga dekat atau penduduk pasir Gintung, baru setelah dekade delapan puluhan para santri dari Jakarta dan sekitarnya berdatangan ke pondok ini, bertepatan dengan mulai bangkitnya kesadaran keagamaan di kalangan kelas menengah kota juga pertumbuhan ekonomi ala Orde Baru: dua proses sosial ekonomi yang saling berhimpitan.

Laju pertumbuhan pesantren di tahun 90-an semakin subur dengan pengembangan pesantren La Tansa, Kampus Rangkas Bitung, dan pesantren wisata sakinah La Lahwa di wilayah Panimbang tak jauh dari Labuan dan Tanjung Lesung.

Kyai Rifa’i meninggal di usia 57 tahun, usia yang masih muda untuk ukuran para Kyai Banten. Jejaknya bisa kita rasakan dengan ribuan alumni, lembaga pendidikan pesantren yang beliau wariskan, bahkan Universitas La Tansa yang hingga kini terus tumbuh.

Saya sempat merasakan interaksi dengan Kyai Rifa’i semasa di Gintung dan dua tahun mengabdi di masa awal Pesantren La Tansa. Ia dengan ringan menyatukan santri lelaki dan perempuan dalam satu ruang kelas, bahkan di masa lalu juga untuk latihan ‘muhadhoroh’ atau ‘public speaking club’, meski itu tampak berseberangan dengan Gontor yang hanya untuk para santri putra atau kemudian dipisahkan antara putra dan putri.

Di dekade 90-an, ia merespons perubahan penting pergeseran kuasa Orde Baru dalam hubungannya dengan Islam, ditandai dengan berdirinya ICMI dan organ-organ keagamaan Islam yang tampak semakin mesra dengan penguasa, termasuk obsesi pada sains-teknologi yang diwakili oleh figur Habibie.

Ia mendirikan pesantren La Tansa dengan kurikulum diknas, sempat beberapa kali berkonsultasi dengan para ahli di BPPT agar seusai dengan aspirasi perkembangan baru agar para santri dapat masuk ke lapisan akademik bidang sains di perguruan tinggi negeri.

Di saat yang sama, ia mematangkan ide pelembagaan kampus dengan sejumlah akademisi di Banten untuk mendirikan Sekolah Tinggi Ekonomi dan STAI La Tansa. Kampus ini berdiri hingga kini berkat partisipasi akademisi, praktisi, dan birokrat yang merasa terpanggil untuk mengajar di sela waktu kerja di Pemerintahan Daerah.

Kyai Lilip memiliki kesadaran yang kuat untuk membangun dan mengelola jaringan di beragam lapisan mulai dari jaringan keagamaan, akademisi, praktisi, tokoh, juga kelas menengah yang sedang tumbuh di bawah pengaruh ekosistem ekonomi politik Orde Baru. Lapisan sosial (social origin) para alumni dan santri Gintung dapat dijelaskan berdasarkan ekosistem jaringan tersebut. Keterbukaannya terhadap perubahan menjadikan ide yang diusungnya mudah mendapatkan dukungan dari beragam kalangan seraya tak lupa dengan tradisi Banten yang diwariskan oleh jaringan Caringin.

Kini, kita menyaksikan Pesantren Gintung semakin berkembang menjadi empat pesantren meski masih di lokasi yang sama, Pesantren La Tansa yang juga terus tumbuh termasuk perguruan tinggi.

Semoga para pengelola warisan Kyai Rifa’i; keluarga, para guru yang mengabdi, dan para santri terus terinspirasi semangat pendirinya yang tak kenal lelah berjuang dengan sikap istiqomah, merespons perubahan, dan berjejaring dengan beragam elemen yang mendukung kemajuan pendidikan serta ikhtiar inovasi sebagai elan vital yang tak pernah redup dari almarhum.

Terima kasih kyai Rifa’i, nama dan semangatmu selalu menjadi inspirasi para alumni yang pernah ikut berada di barisan shaf sholat bersamamu juga munajat yang selalu diucapkan untuk kelangsungan pesantren ini. Alfatihah!

* Abdul Hakim merupakan Pegiat Literasi Pesantren

Sumber: Indopolitika.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *