Tanggapi Serangan Saraswati, Tim Komunikasi Ben-Pilar Sebut Dia Harus Banyak Membaca Data

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM —  Calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Rahayu Saraswati mengirimkan keterangan tertulis ke berbagai media dan menyatakan dirinya miris karena tidak adanya rumah sakit daerah dengan kelas A/B di Tangsel. Bahkan Saras dengan cepat mengaitkan hal itu sebagai bukti adanya permasalahan serius dalam pembangunan dan pelayanan kesehatan di Kota Tangsel. Secara dramatis, Saras mengaku sedih dan menambahkan alasan kesedihannya yakni medapati RSUD Kota Tangsel ternyata sudah turun kelas. Lebih keras lagi Saras menyatakan, kesehatan terbengkalai di Tangsel karena kasus korupsi alat-alat kesehatan (alkes) “Kita sudah tahu siapa pelakunya dan sudah divonis oleh Pengadilan Tipikor,” ujarnya sebagaiman diberitakan banten.suara.com, edisi Selasa (8/9).

Menanggapi kampanye negatif yang dilontarkan Saraswati, tim komunikasi Benyamin-Pilar menyebut Saras terlalu bernafsu menyerang bahkan dalam suasana yang sedang bersama-sama diperiksa kesehatannya di RSUD Kabupaten Tangerang di Kota Tangerang. Reza Ahmad menilai Saras terlalu nafsu hingga abai dengan data dan parahnya membuat kesimpulan yang sesat. “Itu Ibu padahal sedang bareng-bareng diperiksa dan photo-photo bersama, bukannya konsentrasi ke pemeriksaan kesehatan malah sibuk kampanye negatif, mana datanya salah lagi. Dia harus banyak membaca data,” ujar Reza, Rabu (9/9).

Muat Lebih

Reza menyampaikan, Tangsel adalah daerah pemekaran baru, jadi wajar kalau belum ada RSUD yang tipe A atau tipe B. Di Banten menurutnya memang tidak ada satupun RSUD yang tipe A. Bahkan RSUD Kabupaten Tangerang yang jadi tempat pemeriksaan kesehatan para bapaslon peserta pilkada Tangsel tipe atau kelasnya adalah B.

“Bu Saras itu tahu nggak berapa usia RSUD Kabupaten Tangerang? Itu usianya sudah 56 tahun. Bahkan lokasinya saja berada di Kota Tangerang. Di Kota Tangerang sendiri ada RSUD tapi kelasnya masih sama dengan RSUD Tangsel yaitu kelas B. Jadi mengaitkan belum adanya RSUD kelas A di Tangsel dengan kegagalan Pemkot Tangsel mengelola bidang kesehatan adalah logika sesat. Tidak nyambung, maksain di kait-kaitan,” kata Reza.

Reza juga membantah pernyataan Saras bahwa RSUD Tangsel telah turun kelas jadi tipe D. Mengutip laman Badan PPSDM Kesehatan
http://bppsdmk.kemkes.go.id/info_sdmk/info/distribusi_sdmk_rs_per_prov?prov=36 , Reza menyatakan tipe RSUD Tangsel adalah kelas C sama seperti RSUD Kota Tangerang. Bahwa pernah direkom oleh kemenkes menjadi kelas D, itu sudah disanggah. Menurutnya, RSUD Tangsel justru sedang berbenah, menambah gedung baru, menambah kapasitas tempat tidur dan alat kesehatan mutakhir serta meningkatkan SDM secara serius.

Reza menambahkan, Tangsel yang merupakan kota termuda di Provinsi Banten, selama periode kepemimpinan Airin-Benyamin, berhasil meningkatkan tingkat kepuasan pelayanan kesehatan, terutama kepuasan masyarakat yang menikmati fasilitas Puskesmas. Dari target 35 pembangunan Puskesmas, periode kepemimpinan Airin dan Benyamin telah berhasil merealisasikan 31 Puskesmas dan sisanya sedang dibangun, juga sedang menambah 2 Rumah Sakit tipe C yang akan berlokasi di wilayah Serpong Utara dan Pondok Aren.

Mengutip pernyataan Walikota Airin, Reza menjelaskan bahwa saat ini pemerintah Kota Tangsel sedang berfokus pada penekanan angka kematian ibu hamil. Dengan adanya puskesmas ini dia berharap bahwa program tersebut bisa terlaksana dengan baik, melalui puskesmas, pelayanan imunisasi terhadap bayi dan balita diharapkan semakin maksimal.

“Bu Airin selalu menyampaikan bahwa setiap masyarakat harus mendapatkan hak pelayanan kesehatan. Dengan membangun puskesmas di level kelurahan, kita bisa lihat bagaimana komitmen pelayanan kesehatan pemkot terhadap masyarakat. Sudah gratis, hanya menunjukan ektp, warga bisa dilayani dan puskesmasnya dekat dengan rumah tinggalnya. Ini bukti preferensi terhadap wong cilik, ini fakta,” ujarnya.

Reza mengajak semua pihak untuk berdiskusi dengan rendah hati, jauh dari menghakimi dan menyerang dengan kampanye negatif. Pilkada adalah ajang kontestasi, ajang berlomba dalam kebaikan bukan ajang mencari-cari kesalahan pihak lain atau bahkan memaksakan mengait-kaitkan sesuatu agar terlihat salah. (ind)

Sumber: Indopolitika.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *